Sunday, July 30, 2023

ANIES RANGKUL RADIKAL DALAM PILPRES 2024

Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Front Persaudaraan Islam menegaskan belum menentukan sikap apapun terkait pemilihan presiden pada 2024. Ketua Bidang Advokasi DPP FPI Aziz Yanuar mempertanyakan klaim mengatasnamakan FPI Reborn atas dukungan terhadap Anies Baswedan pada pilpres dua tahun mendatang.

"Suara FPI memang "seksi" untuk menjadi daya tarik politik. Dan ini bukan cuma pencitraan, namun benar terbukti di saat Pilkada DKI Jakarta beberapa tahun lalu," ujar Yanuar kepada Kompas.com, Senin (6/6/2022).

Yanuar mengatakan secara resmi DPP FPI belum menentukan sikap apapu perihal peristiwa politik 2024 nanti dan turunannya. Meski demikian, ujar Yanuar, FPI jelas memiliki beberapa kriteria yang tegas untuk 2024.

"Mungkin beberapa kriteria dimiliki, oleh, misal dalam hal ini, Anies Baswedan," tutur Yanuar.

"Akan tetapi untuk sikap 2024 nanti, kita bersabar saja."

Sekelompok orang yang mengatasnamakan FPI Reborn mendeklarasikan dukungan kepada Anies Baswedan untuk maju dalam Pemilihan Presiden 2024 di kawasan Patung Kuda pada Senin (6/6/2022). Aksi tersebut pun ramai diperbincangkan di media sosial.

Sejumlah foto memperlihatkan sekelompok orang baju serba putih dan membawa bendera putih besar dengan tulisan FPI berwarna hijau. Foto-foto ini pun turut dibagikan Politikus PSI Mohamad Guntur Romli melalui akun Twitter resminya @GunRomli dan pegiat media sosial Eko Kuntadhi melalui akun Twitter @_ekokuntadhi.

Dewan Pimpinan Pusat (DPP) FPI membantah aksi yang mengatasnamakan FPI Reborn tersebut. Ketua Umum DPP FPI Muhmmad Alattas menyebutkan ada gerakan intelijen yang sangat berbahaya menggerakkan massa tidak dikenal dengan menggunakan nama FPI untuk mendeklarasikan Anies.

"Beberapa hari sebelumnya, mereka lewat medsos (media sosial) telah menyebarkan undagan aksi tersebut dengan kop surat FPI yang dipalsukan," ujar Alattas. 

DULU DITUTUP ANIES, KINI BALAI KOTA JADI TEMPAT PENGADUAN WARGA JAKARTA

Pemandangan berbeda kembali terlihat di Pendopo Balai Kota DKI Jakarta, Jakarta Pusat. Jika sebelumnya pintu pendopo dipasangi gorden berwarna putih, kali ini ruang tamu Balai Kota terlihat remang-remang.

Pendopo Balai Kota DKI Jakarta kini ditutup gorden putih. Seperti apa suasana di dalam ruangan itu sekarang?

Pantauan detikcom, di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin siang (27/11/2017), hanya lampu dinding di ruang tamu Balai Kota tersebut yang dinyalakan. Padahal sebelumnya semua lampu di ruangan tersebut selalu dinyalakan.

Dengan hanya penerangan yang berasal dari lampu dinding yang berwarna kuning itu, ruang tamu tersebut menjadi tampak remang-remang. Akses untuk melihat aktivitas di dalam ruang tamu itu pun menjadi minim.

Padahal sebelumnya, warga bisa melihat secara jelas ruang tamu atau ruang meja bundar Pendopo, ruang Fatahillah/ruang foto, hingga Balairung apabila dilihat dari jarak dekat. Warga juga dapat melihat segala aktivitas, termasuk beberapa petugas pengamanan dalam (pamdal) yang berjaga di ruang tamu.

Sebelumnya, Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno menjelaskan alasan ditutupnya pintu pendopo Balai Kota. Salah satunya agar pencahayaan tidak berlebih saat memfoto ke arah pintu Pendopo.

"Saya tanya kemarin, karena ada acara waktu itu dan iya tentunya menambah kefokusan acara itu supaya juga pencahayaannya tidak terlalu bright, sehingga kalau ambil gambar dari dalam itu tidak backlight. (Maka) diusulkan ditaruh tirai ini," kata Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno saat dimintai konfirmasi.

 

KADRUN MULAI TINGGALKAN ANIES, DAMPAK ELEKTABILITAS TAK KUNJUNG NAIK

Melihat dinamika politik yang terjadi saat ini, bisa dikatakan jalan bagi Anies untuk terpilih jadi presiden sangatlah terjal.

Penyebab bukan dari pihak luar, tapi dari Anies sendiri dan dari internal Koalisi Perubahan.

Sebagai contoh soal penentuan Cawapres. Sampai sekarang masih berjalan alot. Masing-masing partai punya kandidat dan tidak ada yang mau mengalah.

Padahal jelas, dalam aturan negara kita yang namanya Capres itu Cawapresnya hanya satu. Tidak bisa tiga.

Artinya PKS, NasDem dan Demokrat mau tidak mau harus menyepakati satu nama untuk mendampingi Anies.

Sedangkan yang terjadi saat ini, ketiga partai tersebut punya jagoan sendiri-sendiri. Seperti Partai Demokrat menjagokan AHY untuk jadi wakil Anies.

Alasannya karena;

Pertama, elektabilitas AHY masuk 5 besar sebagai Cawapres.

Kedua, AHY merupakan Ketum partai yang lolos ke parlemen. Partai Demokrat bisa digunakan untuk melengkapi syarat ambang batas pencalonan Anies.

Ketiga, Anies-AHY punya mentor yakni SBY yang pernah berkuasa selama 10 tahun di negeri ini.

SBY tentu akan dengan senang hati membagikan pengalamannya dalam memenangkan Pilpres serta strategi apa saja yang dia pakai pada Pemilu 2004 dan 2009 silam.

Dan keempat, AHY punya basis massa yakni kader Demokrat.

Seluruh kader Demokrat di Indonesia bisa dia kerahkan untuk pemenangan Anies-AHY.

NasDem beda lagi yakni menjagokan Khofifah dan Yenny Wahid sebagai Cawapres Anies. Alasannya karena NasDem yakin banget kalau Anies kalah di dua provinsi yakni Jateng dan Jatim maka dia pasti akan gagal terpilih jadi presiden. Dan menurutnya, kedua orang itu punya cukup berpengaruh di dua provinsi tersebut.

Sementara PKS banyak banget jagoannya untuk wakil Anies. Mulai dari Aher, Mahfud MD, Sandiaga Uno hingga Susi Pudjiastuti.

Dan di antara banyak nama itu yang paling diinginkan PKS sebenarnya Sandi dan Susi.

Pertanyaannya kenapa kedua orang tersebut? Karena mereka banyak duitnya.

Yang namanya ikut Pilpres jelas butuh modal ferguso. Kalau Susi atau Sandi yang jadi Cawapres Anies, tidak perlu galang dana lagi ke sana ke mari untuk biaya kampanye. Soalnya mereka banyak duitnya.

Lebih-lebih PKS bisa dapat untung, seperti pada Pilpres 2019 lalu yang dapat kardus Rp 500 miliar dari Sandiaga uno.

Masing-masing partai punya Cawapres yang berbeda inilah yang membuat Anies belum punya wakil yang pasti sampai sekarang serta berpotensi bikin Koalisi Perubahan bubar di tengah jalan.

Eh belum juga selesai masalah itu, ada lagi masalah lain yakni elektabilitas Anies mantap di posisi ketiga. Alias dari dulu sampai sekarang gak naik-naik.

Padahal yang namanya Capres, elektabilitasnya berada di urutan pertama saja belum tentu menang. Apa lagi nomor tiga gak naik-naik.

Saturday, July 29, 2023

ANIES BUDAK PARTAI! SUDAH DIOBRAL, DIPERMAINKAN, DAN JADI KORBAN DRAMA

Wakil Ketua Umum Partai NasDem Ahmad Ali mengaku bingung dengan calon presiden (capres) Anies Baswedan yang menyampaikan kriteria baru untuk sosok calon wakil presiden (cawapres) di Pilpres 2024.

Ali menganggap Anies inkonsisten dengan terus menambah kriteria cawapres. Ia menilai Anies terkesan hanya ingin mencocokkan kriteria cawapres menurut dirinya sendiri.

"Ya artinya, pertama saya bingung juga dengan Mas Aniesnya ini. Tiap hari, berubah bertambah kriterianya," kata Ali saat dihubungi, Jumat (21/7).

Menurut Ali, dengan inkonsistensi Anies tersebut wajar jika Partai Demokrat menganggap Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) cocok dengan syarat yang ditetapkan Anies.

Ia menganggap Anies hanya sedang mencari pembenaran untuk mencari sosok cawapres yang diinginkan. Padahal, kata Ali, kriteria cawapres menjadi kewenangan partai politik pendukung.

"Kalau saya pribadi lebih pada ingin mencari pembenaran mencocokkan orang yang dia mau. Titik. Dan saya merasa aneh aja ya kan," ujarnya.

"Jadi ketika pertama kali tiga kriteria, tambah dua kriteria, empat bulan lagi berapa kriteria gitu kan. Daripada nanti jadi bahan dengeran orang ya umumkan saja kalau kau sudah memilih orang gitu loh," kata Ali menambahkan.

Anies sebelumnya mengungkap satu syarat tambahan dari lima syarat calon pendampingnya di Pilpres 2024. Kriteria baru yang ditetapkan Anies yakni tidak bermasalah dan berani.

Ia menilai kriteria cawapres tak memiliki masalah sangat penting. Anies meyakini seseorang akan mudah tersandung dalam karir politik jika bermasalah pada masa lalu.

"Karena kalau ada masalah mudah sekali kesandung sekarang ini, jadi kriterianya 5, tapi mungkin kriteria 0, karena ternyata itu faktor yang sangat penting," kata Anies di Jakarta, Kamis (20/7).

 

ELEKTABILITAS ANIES MAKIN NYUNGSEP, KOK KADRUN KEPEDEAN MENANG SATU PUTARAN?

Elektabilitas Anies di beberapa lembaga survei, bahkan bisa dibilang di semua survei, selalu berada di bawah Ganjar dan Prabowo. Anies selalu menempati urutan ketiga. Bahkan perbedaan angka dengan Ganjar dan Prabowo selalu jauh signifikan.

Tapi relawan Anies malah yakin bisa menang Pilpres 2024 dalam satu putaran.

“Jika hasil-hasil survei seringkali mendiskreditkan Pak Anies, hari ini kita lihat para relawan begitu kuat tekadnya menjadikan kemenangan Anies satu putaran itu terwujud" kata Ketua Umum Konfederasi Nasional Relawan Anies (KoReAn), Muhammad Ramli Rahim.

Ada ratusan relawan dari berbagai simpul saling berbagi pengalaman dan treatment untuk mengajak masyarakat lain bergabung memilih Anies.

"Kami terus melakukan konsolidasi, Koordinasi, dan verifikasi dalam upaya membangun militan relawan, relawan tanpa dibayar justru menjadi kekuatan luar biasa, kami terus bergerak menghadirkan tim mata warga Anies (mawar KoReAn) di semua TPS,” kata Ramli.

Mereka bingung hasil survei yang ada saat ini karena hasil survei sangat berbeda dengan fakta lapangan yang mereka temukan.

"Kami ini mendatangi masyarakat, langsung bertanya soal Pilpres, tanpa saya jelaskan soal Anies, mereka sudah Anies. Bahkan amat sangat jarang kami bertemu masyarakat yang memilih calon lain selain pak Anies" kata satu orang dari Relawan Soelawesi Pejuang.

Pilpres belum dimulai aja mereka sudah pada halu parah dan hampir, ah sudahlah. Yakin bisa menang satu putara? Turunkan dulu deh ekspektasinya. Yakin bisa lolos di putaran pertama? Kalau tidak sesuai harapan, ujung-ujungnya pakai jurus pamungkas yaitu kecurangan yang masif, bombastis dan fantastis. Lalu ngomel-ngomel teriak hanya kecurangan yang bisa kalahkan Anies. Anies dijegal sehingga dikalahkan dengan segala cara. Gitu terus berulang-ulang sampai kiamat.

Kubu Anies ini dari dulu selalu merasa sudah menang, tidak akan bisa kalah, hidup dalam mimpi yang keterlaluan parahnya. Dikasih angka lewat survei, mereka malah memilih pakai feeling. Angka dalam statistik di survei itu ada metodologi ilmiahnya dan bisa dijelaskan, bukan pakai feeling dan keyakinan mmebabi buta.

Mereka tanya rakyat, rakyat yakin dengan Anies. Rakyat yang mana dulu nih? Kubu lain juga bisa mengklaim hal yang sama. Mimpi dan cita-cita itu bagus, tapi kadang harus pakai logika dan rasionalitas. Mau menghibur diri ya bilang aja gitu, jangan bilang yakin bahkan bisa menang satu putaran. Rumput pun berhenti bergoyang karena terkejut, hahaha.

 

WACANA DUET ANIES BASWEDAN-SUSI PUDJIASTUTI LAYU SEBELUM TERPAPAR SINAR MATAHARI

Akhirnya ditemukan juga calon wakil presiden yang akan mendampingi Anies Baswedan dalam Pilpres 2024. Nama Susi Pudjiastuti mulai diperbincangkan sebagai kandidat cawapres Anies usai keduanya bertemu di Pangandaran.

Dua Srikandi Indonesia Yenny Wahid dan Khofifah Indar Parawansa memperlihatkan sinyal untuk menolak dijadikan cawapres yang akan diendors oleh Koalisi Perubahan Untuk Persatuan.

Anies Baswedan yang sudah mendapatkan mandat memilih calon pendampingnya terus melakukan lobi dan juga penjajakan politik dengan tokoh masyarakat potensial. Anies Baswedan harus mengejar target agar mendapatkan pendampingnya yang dapat membantu memenangkan kontestasi pilpres 2024.

Perjalanan panjang dan melelahkan harus dilakoninya. Kali ini bidikan Anies Baswedan adalah Susi Pudjiastuti, tokoh nasional yang juga mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Kabinet Jokowi Periode 2015-2919. Anies sengaja bertamu ke kediaman Susi, bahkan bermalam di sana. Keduanya terlibat dalam momen-momen akrab seperti Anies disopiri Susi, bersama ke pelelangan ikan Pangandaran, hingga foto-foto bersama.

Beredar kencang jika Nama eks Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti kini mencuat di bursa bakal calon wakil presiden (bacawapres) untuk mendampingi Anies Baswedan. Menjadi wacana baru untuk memecahkan kebuntuan pemilihan cawapres di internal Koalisi Perubahan Untuk Persatuan.

Sampai saat ini Anies Baswedan, Nasdem dan juga anggota Koalisi Perubahan sedang bingung dan tertekan untuk segera memilih calon wakil presiden. Ribut dan ribetnya konflik berbagai kepentingan pada akhirnya menimbulkan friksi tajam untuk saling menolak dan memveto siapa yang akan dijadikan wakil presidennya.

Nama Susi Pudjiastuti mungkin menjadi solusi dan titik akhir sebagai pilihan terbaik bagi Kekompakan Koalisi Perubahan Untuk Persatuan. Menjadi pilihan dan kesepakatan bersama antara anggota partai sebagai calon diluar partai.

Pertanyaannya yang paling krusial adalah apakah Nama Susi Pudjiastuti dapat menaikkan signifikan suara dalam pilpres 2024?

Jika mengacu syarat cawapres yang diinginkan baik oleh Nasdem dan juga Anies Baswedan salah satu indikatornya adalah cawapres tersebut mempunyai daya dongkrak untuk mengangkat suara pemilih. Bagaimana membuktikannya ?

Pilihan Anies Baswedan ke Susi Pudjiastuti untuk dijadikan pendamping wakil presidennya akan banyak terkendala dan terganjal oleh performa politik dari Susi Pudjiastuti. Data menunjukkan jika elektabilitas atau tingkat keterpilihan Susi Pudjiastuti tak sampai 1 persen.

Hasil survey politik dari Indikator Politik Indonesia merekam dukungan untuk Susi pada survei bulan Juni 2023. Susi masuk dalam simulasi 22 nama calon wakil presiden semi terbuka.

Dia memiliki elektabilitas 0,8 persen dan duduk di posisi ke-12. Erick Thohir memuncaki daftar itu dengan 18,5 persen. Pada simulasi 17 nama cawapres, Susi memiliki elektabilitas 1 persen.

Menurut survei ini, elektabilitas Susi sedikit lebih unggul dari Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDI Perjuangan Puan Maharani (0,7 persen) dan Menteri Sosial Tri Rismaharini (0,6 persen).

Jika menyimak dari data elektabilitas Susi Pudjiastuti yang sangat rendah, tentunya Anies Baswedan menuntunnya bunuh diri dan memotong lehernya sendiri karena dirinya yang memilih Susi sebagai wakilnya.

Rancangan Duet Anies Baswedan -Susi Pujiastuti hanya pekerjaan berhalusinasi. Terlihat betul bahwa perimbangan untuk mengawinkan Mantan Gubernur DKI dan Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan tersebut sebagai adegan drama politik konyol dan tidak lucu.

Baik hitungan hitungan logika politik atau logika matematika sudah ketahuan jika duet tersebut bakal kalah dan hanya mempermalukan posisi politik dan tawar KPP. Duet mereka hanya menang jika Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto tidak mencalonkan capres, baru ada peluang untuk menang.

Anies Baswedan dan juga Nasdem beserta PKS dan Demokrat sedang menghibur diri sejenak. Jeda sebentar sebelum memutuskan bubar atau tetap melanjutkan pencapresan Anies Baswedan sebagai capres dari Koalisi Perubahan Untuk Persatuan dengan segudang permasalahan dan keraguannya.

 

KASIAN ANIES! SEMUA TOKOH BERPENGARUH TOLAK MENTAH-MENTAH TAWARAN CAWAPRES ANIES

Pegiat media sosial, Yusuf Dumdum membeberkan dugaan alasan para tokoh nasional enggan menjadi calon wakil presiden (Cawapres) Anies Baswedan pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.

"Mengapa banyak sekali tokoh nasional yang menolak untuk menjadi bakal calon wakil presiden mendampingi Anies Baswedan, kan itu pertanyaannya," kata Yusuf Dumdum dikutip dari channel YouTube 2045 TV, Kamis (27/7/2023).

"Bahkan dalam catatan saya setidaknya ada 5 tokoh nasional yang menolak tawaran untuk menjadi cawapres mendampingi Anies Baswedan," papar dia.

Para tokoh tersebut, kata Yusuf Dumdum ialah Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Menkopolhukam Mahfud MD, Menteri Kamenparekraf Sandiaga Salahuddin Uno, anak Presiden ke-4 Gus Dur yaitu Yenny Wahid, dan mantan Panglima TNI Andika Perkasa.

Atas hal itu, Yusuf Dumdum menganggap saat ini koalisi Perubahan untuk Persatuan sedang dilanda kebingungan lantaran banyak para tokoh nasional tidak ingin menjadi Cawapres Anies pada Pilpres mendatang.

"Memang bisa dibilang ya kubu Anies Baswedan ini sedang kebingungan kalau menurut saya, sekarang coba bayangkan saja hampir semua tokoh yang ditawari maju sebagai cawapres Anies Baswedan mereka ini selalu menolaknya," kata dia.

Lebih lanjut, Yusuf Dumum mengangap, sulit bagi Anies untuk bersaing dengan bakal calon presiden lain yakni Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto. Karena posisi Anies sudah tak bisa bergerak.

"Hal ini semakin menyimpulkan bahwa posisi Anies Baswedan adalah kartu mati, harus diakui bahwa sulit bagi Anies Baswedan untuk bisa terus bersaing dengan dua calon teratas lainnya yaitu Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto," jelas dia.

CALEG PENGUSUNG ANIES MUHAIMIN PUTUS ALIRAN AIR WARGA KARENA BEDA PILIHAN DUKUNGAN

Akibat beda dukungan pada pemilihan calon anggota DPR RI, aliran air ke rumah salah seorang warga di putus oleh tim sukses. Kondisi mempriha...